Selasa, 06 Maret 2012
cerita hati
tolong jangan putuskan cinta kita, aku hanya mencinta kamu, aku hanya menyayangi kamu, aku emang ga berharta banyak, dan wajah aku juga ga ganteng, emang aku itu suka nyakitin hati kamu, tapi apakah perpisahan adalah cara yang baik untuk kita, itu ga mungkin sayang, kita bisa mengenali masing-masing cerita yang pernah kita obrolkan, jangan pernah masukan kelubuk hatimu, karena itu maslalu, karena masa lalu yang saya alami kebanyakan semua keburukan,aku tak mau karena itu kita menjadi sperti ini sayang,tolong plis jangan menjadikan seuatu kata yang kau ucapkan menjadi hal yang menyesalkan hatimu, padahal kau hanya butuh kenenangan untuk menenangkan semuanya,aku hanya bisa menyesali semua yang aku lakukan,sehingga kau mengucapkan kata yang tak seharusnya kau ucapkan tentang kita.
apa salah aku ke kamu?
emang semua yang aku lakuin slalu salah, tapi apakah kamu harus menjauh dengan cara ini?
aku tak sanggup untuk keputusan ini, aku hanya bisa bilang tak kan jera aku memintamu tuk tetap di sini. dan kamu minta tuk lupakanmu, aku tak kan mampu.
Senin, 05 Maret 2012
Fonetik dan Fonemik
Bagian dari Tatabahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa
pada umumnya dalam Ilmu Bahasa disebut fonologi .
Fonologi pada umumnya dibagi atas dua bagian yaitu Fonetik
dan Fonemik .
Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan
menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari
bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
Fonemik adalah ilmu yang mempelajari
bunyi-ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.
Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang
dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu
dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki
kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi
untuk membedakan arti.
Kata
Keterangan atau Adverbia
Kata-kata Keterangan atau adverbia adalah
kata –kata yang memberi keterangan tentang:
1. Kata Kerja
2. Kata Sifat
3. Kata Keterangan
4. Kata Bilangan
5. Seluruh Kalimat
Kata keterangan secara tradisional dapat
dibagi-bagi lagi atas beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik
berdasarkan fungsinya dalam kalimat, yaitu:
A. Kata Keterangan Kualitatif (Adverbium
Kualitatif)
Adalah Kata Keterangan yang menerangkan
atau menjelaskan suasana atau situasi dari suatu perbuatan.
Contoh: Ia berjalan perlahan-perlahan
Ia menyanyi dengan
nyaring
Biasanya Kata Keterangan ini dinyatakan
dengan mempergunakan kata depan dengan
+ Kata Sifat. Jadi sudah tampak di sini bahwa Kata
Keterangan itu bukan merupakan suatu jenis kata tetapi adalah suatu fungsi atau
jabatan dari suatu kata atau kelompok kata dalam sebuah kalimat.
B. Kata Keterangan Waktu (Adverbium
Temporal)
Adalah keterangan yang menunjukkan atau
menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa dalam suatu bidang waktu: sekarang, nanti, kemarin,
kemudian, sesudah itu, lusa, sebelum, minggu depan, bulan depan, dan lain-lain.
Kata-kata seperti: sudah, telah, akan, sedang, tidak termasuk dalam keterangan waktu, sebab kata-kata
tersebut tidak menunjukkan suatu bidang waktu berlangsungnya suatu tindakan,
tetapi menunjukkan berlangsungnya suatu peristiwa secara obyektif.
C. Kata Keterangan Tempat (Adverbium
Lokatif)
Segala macam kata ini memberi penjelasan
atas berlangsungnya suatu peristiwa atau perbuatan dalam suatu ruang, seperti: di sini, di situ, di sana, ke mari, ke sana,
di rumah, di Bandung, dari Jakarta dan
sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas tyang secara
konvensional dianggap Kata Keterangan Tempat, jelas tampak bahwa golongan kata
ini pun bukan suatu jenis kata, tetapi merupakan suatu kelompok kata yang
menduduki suatu fungsi tertentu dalam kalimat. Keterangan Tempat yang
dimaksudkan dalam Tatabahasa-tatabahasa lama terdiri dari dua bagian yaitu kata
depan (di, ke, dari) dan kata benda atau kata ganti penunjuk.
D. Kata Keterangan Cara (Keterangan
Modalitas)
Adalah kata-kata yang menjelaskan suatu
peristiwa karena tanggapan si pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut.
Dalam hal ini subyektivitas lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap
pembicara, bagaimana cara ia melihat persoalan tersebut. Pernyataan sikap
pembicara atau tanggapan pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut dapat
berupa:
1. Kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu,
tidak, bukannya, bukan.
2. Pengakuan : ya, benar, betul, malahan, sebenarnya.
3. Kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin,
rasanya, rupanya, dan lain-lain.
4. Keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
5. Ajakan : baik, mari, hendaknya, kiranya.
6. Larangan : jangan.
7. Keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.
Catatan: Kata tidak menyatakan kepastian dengan mengingkarkan sesuatu,
begitu juga kata bukan. kata tidak dipakai untuk menyatakan ingkaran biasa, ingkaran pada
perbuatan, keadaan, hal atau segenap kalimat, sedangkan bukan menyatakan suatu pertentangan dan menyangkal bagian
dari suatu kalimat.
Konsonan
Bila dalam
menghasilkan suatu bunyi-ujaran, udara yang keluar dari paru-paru mendapat
halangan, maka terjadilah bunyi yang disebut konsonan . Halangan yang
dijumpai udara itu dapat bersifat sebagian yaitu dengan menggeserkan atau
mengadukkan arus udara itu.
Dengan
memperhatikan bermacam-macam factor untuk menghasilkan konsonan, maka kita
dapat membagi konsonan-konsonan:
- Berdasarkan artikulator dan
titik artikulasinya.
- Berdasarkan macam halangan
udara yang dijumpai udara yang mengalir keluar.
- Berdasarkan turut-tidaknya pita
suara bergetar.
- Berdasarkan jalan yang dilalui
udara ketika keluar dari rongga-rongga ujaran.
Batasan : Konsonan adalah bunyi-ujaran
yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan.
1.
Berdasarkan artikulator dan titik artikulasinya, konsonan-konsonan dapat dibagi
atas:
a. Konsonan
bi-labial, bunyi yang
dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir: /p/, /b/, /m/, dan /w/.
Karena kedua belah bibir sama-sama bergerak, serta keduanya juga menjadi titik
sentuh dari bibir yang lainnya, maka sekaligus mereka bertindak sebagai
artikulator dan titik artikulasi.
b. Konsonan
labio-dental, adalah bunyi
yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan
bibir bawah sebagai artikulatornya: /f/ dan /v/.
c. Konsonan
apiko-interdental, adalah bunyi
yang terjadi dengan ujung lidah yang bertindak sebagai artikulator dan daerah
antar gigi sebagai titik artikulasinya: /t/ dan /n/.
d. Konsonan
apiko-alveolar, adalah bunyi
yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi
sebagai titik artikulasinya: /d/ dan /n/.
e. Konsonan
palatal, adalah bunyi
yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit
keras sebagai titik artikulasinya: /c/, /j/, dan /ny/.
f. Konsonan
velar, adalah bunyi
yang dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit
lembut sebagai titik artikulasinya: /k/, /g/, /ng/, dan /kh/.
g. Hamzah
(glottal stop), adalah bunyi
yang dihasilkan dengan posisi pita suara tertutup sama sekali, sehingga
menghalangi udara yang keluar dari paru-paru. Celah antara kedua pita suara
tertutup rapat.
h. Laringal,
adalah bunyi
yang terjadi karena pita suara terbuka lebar. Bunyi ini dimasukkan dalam
konsonan karena udara yang keluar mengalami gesekan.
2.
Berdasarkan halangan yang dijumpai udara ketika keluar dari paru-paru, konsonan
dapat pula dibagi-bagi atas:
a. Konsonan
hambat (stop), merupakan
konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru sama sekali
dihalangi: /p/, /b/, /k/, /t/, /d/, dll. Dalam pelaksanaannya, konsonan hambat
dapat disudahi dengan suatu letusan; dalam hal ini konsonan hambat itu disebut konsonan
peletus atau konsonan eksplosif, misalnya konsonan p dalam kata pukul,
lapar. Atau konsonan hambat itu dapat dilaksanakan dengan tidak ada
letusan; maka hambat itu bersifat implosif, misalnya /t/ dalam kata berat,
parit, dll.
Dengan cara
sederhana dapat dikatakan bahwa hambat eksplosif terdapat bila suatu konsonan
hambat diikuti vokal, sedangkan konsonan hambat implosif terjadi bila konsonan
hambat itu tidak diikuti vokal.
b. Frikatif
(bunyi geser) , merupakan
konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru digesekkan: /f/,
/h/, dan /kh/.
c. Spiran, merupakan konsonan yang terjadi bila
udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan berupa pengadukan diiringi
bunyi desis: /s/, /z/, /sy/.
d. Likuida, atau disebut juga lateral ,
merupakan bunyi yang dihasilkan dengan mengangkat lidah ke langit-langit
sehingga udara terpaksa diaduk dan keluat melalui kedua sisi: /l/.
e. Getar
atau trill, adalah bunyi
yang dihasilkan dengan mendekatkan lidah ke alveolum atau pangkal gigi,
kemudian lidah itu menjauhi alveolum lagi, dan seterusnya terjadi
berulang-ulang dengan cepat, sehingga udara yang keluar digetarkan. Bunyi ini,
yang dihasilkan dengan ujung lidah sebagai artikulator disebut getar apikal .
Di samping itu dalam Ilmu Bahasa dikenal pula semacam bunyi getar lain yang
mempergunakan anak tekak sebagai artikulatornya, dan yang bertindak sebagai
titik artikulasinya adalah belakang lidah. Konsonan getar macam ini disebut getar
uvular . Getar apikal dilambangkan dengan /r/, sedangkan getar uvular
secara fonetis dilambangkan dengan /R/.
3.
Berdasarkan bergetar tidaknya pita suara, konsonan terbagi atas:
a. Konsonan
bersuara, jika pita
suara turut bergetar: /b/, /d/, /n/, /g/, /w/, dan sebagainya.
b. Konsonan
tak bersuara, jika pita
suara tidak bergetar: /p/, /t/, /c/, /k/, dan sebagainya.
4.
Berdasarkan jalan yang diikuti arus udara ketika keluar dari rongga ujaran, konsonan terbagi atas:
a. Konsonan
oral, jika
udaranya keluar melalui rongga mulut: /p/, /b/, /k/, /d/, /w/ dan sebagainya.
b. Konsonan nasal, jika udaranya keluar melalui rongga
hidung: /m/, /n/, /ny, /ng/.
Langganan:
Komentar (Atom)